Tanah Babakan Madang Retak, Warga Resah

Pergeseran tanah di Kampung Cimangurang, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor

Bogor, MITRA NEWSTanah permukiman warga di Kampung Cimangurang, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor mengalami pergeseran, Senin (22/10/2018) malam sekitar pukul 19.00 WIB. “Ya betul terjadi pergeseran tanah pada pukul 07.00 WIB, dan kembali terjadi pada pukul 19.00 WIB,” kata Camat Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Yudi Santosa ketika dihubungi lewat telepon. Pergeseran tanah di wilayahnya kurang lebih sekitar 30 centimeter.

Yudi merinci sebanyak 25 rumah di Kampung Cimangurang Desa Cijayanti mengalami retak akibat pergeseran tanah itu. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Yudi mengingatkan warga agar senantiasa waspada. “Kawaspadaan harus dijaga, terutama ketika hujan turun, karena setelah kami cek di lapangan, pergeseran tanah terjadi akibat turunnya hujan yang cukup deras selama tiga hari berturut-turut,” terangnya.

Hasil pemantauan MITRA NEWS, sejumlah warga tampak cemas ketika rumahnya retak setelah huajan mengguyur wilayahnya selamatiga hari berturut-turut. Kecemasan warga cukup beralasan lantaran beberapa tahun sebelumnya, Gunung Pancar di Kampung Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor  mengalami keretakan hingga sepanjang 300 meter dengan lebar 1,5 meter di bagian selatan bagian atas gunung.

Keretakan di Gunung Pancar berpotensi longsor dan material lumpur yang dikeluarkan dapat menutupi aliran Sungai Cikeruh yang berada di bawah lereng gunung.
“Kami harap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan mengirim ahli geologi untuk menelitinya,” himbau Mohammad Kadir, tokoh masyarakat setempat.Sehingga masyarakat dapat waspada, terutama ketika hujan turun terus menerus.

Secara terpisah, Guru Besar Teknik Lingkungan dan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Arief Sabdo Yuwono dalam keterangan persnya mengingatkan bahwa maraknya tempat usaha baru, seperti bisnis properti (mall, hotel dan apartemen) di wilayah Sentul Bogor berisiko memperparah kerusakan lingkungan, baik udara, air, dan lalu lintas. Sebab  sebagian investor maupun pemerintah mengabaikan studi tentang analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) sebagai prasyarat keluarnya izin.

Ia menyoroti banyaknya pengusaha yang rela mengeluarkan uang banyak agar izinnya beres. “Sikap seperti itu tidak baik dan bakal memperburuk upaya mempertahankan kualitas lingkungan,”terangnya seraya menambahkan bahwa saat ini yang tengah menjadi sorotannya yakni keberadaan proyek pembangunan pusat perbelanjaan di kawasan Yasmin, Bogor Barat dan Tajur, Bogor Selatan.

Pembangunan di kawasan Sentul City, Bogor.

“Waspadai longsor di wilayah Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor karena sebagian penyebabnya adalah aktivitas pembangunan tempat usaha baru yang mengabaikan faktor kerusakan lingkungan,” ujar Prof Arief mengingatkan. (Usman Baret)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *