Menajamnya persaingan  pers di era digital, tidak terbatas pada kompetisi diantara perusahaan pers dan wartawannya, tetapi sudah merambah organisasi profesi. Alhasil, kode etik yg harusnya ditegakkan, banyak dilanggar.
Sejak reformasi bergulir, perusahaan pers dan organisasi wartawan muncul bak jamur di musim penghujan. Wartawan dari berbagai disiplin ilmu dirangkul tanpa adanya sistem rekrutmen maupun diklat khusus yang bersertifikasi kompetensi.
“Karena kita mencintai dunia jurnalis, maka profesi ini kita jaga nama baiknya,” terang Ketua DPC Media Online Indonesia, Doni Ardon saat berdiskusi dengan seluruh jajaran pengurus DPC MOI Kabupaten Bekasi.
Dikatakannya, MOI harus berperan dalam upaya meningkatkan kualitas SDM wartawan untuk membuat pemberitaan yang konstruktif, edukatif, seimbang serta terbebas dari jejaring penyesatan informasi sejenis hoaks. “Kekompakan antar pengurus dan anggota pun harus terjaga, caranya melalui transparansi program dan kegiatan,” ucapnya.
Dia menyebutkan, beberapa organisasi wartawan yang ditinggalkan anggotanya karena pengurusnya (ketua,wakil ketua dan sekretaris) sibuk wara wiri menjual organisasi. “Mereka ambil peran dan cari duit menggunakan organisasi, namun tasbeh (asup tas kabeh-red), pengurus dan anggota lain ga dibagi,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *