OPINI : Ideologi yang terbeli

Oleh : Doni Ardon *)

Salam Waras, jangan sampai kewarasan itu membubarkan perkumpulan yang solid dan ideal, karena yang perlu dibubarkan itu adalah oknumnya, yaitu si bodoh, rakus dan murahan!.

ORANG WARAS itu, mereka yang benar-benar cinta tanah air dan tanah kelahirannya. Dia senantiasa bertahan demi kepentingan yang prinsip (ideologi) dan sulit dikendalikan oleh materi maupun kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Sedangkan orang tidak waras itu hanyalah orang-orang yang sok pintar dan sok menjadi pahlawan, tapi ketika kebenaran dinegoisasikan, faktanya MERUGIKAN!

Kita sebagai bangsa yang waras percaya dan bersaksi bahwa perbedaan kewarasan itu bukan untuk dinegoisasikan tapi diapresiasi secara bijak dan disikapi secara toleran. Karena semua itu adalah kebesaran Tuhan yang menciptakan begitu beragam makhluk… Allahu Akbar.

Penulis setuju dan bersepakat saat ini sulit sekali menemukan ideologisme. Hampir semua sudah tertukar dengan uang dan menjadi materialisme. Kebaikan yang awalnya soliditas, lalu menjadi solidaritas, dan berkembang dalam komunitas… selalu saja ada ada oknum murahan yang mengancam ideologisme dan menjadikan semuanya BUBAR!

Kira-kira seperti itulah penulis menyikapi moral, etika dan peradaban terbelakang yang patut menjadi perhatian dan butuh semacam injeksi.

Seorang teman politisi nyeletuk dengan mantap pada suatu obrolan, “Itu semua disebabkan karena sudah tidak ada paham pada dirinya. Sehingga semua ideologi apapun mudah dibeli dan dikendalikan. Ideologi dalam hal ini tentunya menyangkut uang”.

Penulis jadi tertarik dengan kalimat teman politisi tadi. Lalu mencoba mencari tahu apa itu ideologi, lalu benarkah dikarenakan ideologi yang sudah terbeli tadi maka semua orang terutama para elit, beramai-ramai memangsa uang rakyat?

IDEOLOGI, menurut Wikipedia dipandang sebagai visi yang komprehensif atau cara memandang segala sesuatu secara umum dan beberapa arah filosofis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat.

Secara pribadi, penulis mengartikan ideologi sebagai gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita dan logos yang berarti ilmu. Bila diterjemahkan ideologi merupakan ilmu tentang pengertian dasar, ide atau cita-cita.

Cita-cita yang dimaksudkan adalah cita-cita yang tetap sifatnya dan harus dapat dicapai sehingga menjadi sebuah prime yang mendasar. Dalam perjalanannaya prime tersebut berkembang menjadi suatu paham yang memiliki nilai sebagai pegangan hidup.

Penulis juga menganalogikan ideologi mirip dengan apa yang disebut iman. Dimana dalam Islam pengertian iman adalah sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan secara lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Dalam banyak hal penulis berpandangan bahwa ideologi dan iman sama meski tak sejenis karena kedua-duanya memiliki efek yang kurang lebih sama pada kehidupan seseorang atau komunitas.

Keduanya merupakan ide atau gagasan yang kemudian mempengaruhi seluruh pendapat, cara laku, dan kebiasaan dari orang atau atau sekelompok orang yang mempahaminya.

Ideologi yang paling berkembang saat ini adalah demokrasi, yaitu bentuk turunan liberalisme dalam ranah politik. Turunan liberalisme dalam ranah ekonomi dinamakan kapitalisme. Sedangkan ideologi yg menjadi antitesisnya adalah Marxisme yang kemudian melahirkan Komunisme dan Sosialisme dalam ranah politik dan ekonomi.

Gelombang demokrasi cukup besar dan menyebar secara mendunia hingga tatanan masyarakat terkecil, mulai RT dan RW.

Tatanan akhirnya, demokrasi mengarah kapitalisme dan menjadi angin segar pelakunya, berkembang lalu mengabaikan orang orang TIDAK WARAS dan terbelakang.

Lalu pertanyaannya sekarang, apakah ideologi liberalisme (kapitalisme dan demokrasi) akan menjadi solusi bagi permasalahan global mengingat 40% dari 6.5 milyar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan dimana seperenamnya hidup dalam kondisi sangat miskin?.

Untuk menjawab itu, mari kita telaah iman kita. Adakah gagasan dan cita-cita yang bernilai sebagai pedoman hidup. Sejauh mana kita paham ilmu yang dimiliki dan mau menerima kenyataan dari kebenaran yang hakiki. Lalu bersikap secara realistis, salahkan jika sesuatu itu salah dan benarkan jika memang hal itu benar.

Dan tentunya, kepentingan khalayak ramai patut jadi pertimbangan ketika kita menjadikan ideologi sebagai landasan hidup.

Penulis memberi penekanan bahwa salah satu syarat untuk menjadi pemimpin peradaban itu adalah keharusan memiliki sebuah ideologi yang komprehensif, yang mampu mengakomodasi dan mengkonvergensikan semua hal positif di setiap penjuru. Peradaban maju dalam hal IPTEK tentunya memiliki nilai falsafah dan pemahaman budaya luhur sebagai ideologi jati diri bangsa kita yang tidak melupakan sejarah.

Dan tentunya, yang patut kita lakukan adalah bagaimana membuat sejarah menjadi menarik dan menyenangkan. Sehingga setiap orang pada akhirnya dengan mudah mendapatkan hikmah dari pengetahuan tentang suatu peristiwa sejarah.

*) Penulis adalah Penerima penghargaan Program Manager Reform of Indonesian National Police dari Komisaris Jendral Polisi Jepang Harry Hiroto Yamazaki

Tinggalkan Balasan