Akhir 2018, Pantai Selat Sunda Tsunami

Jelang pergantian tahun baru 2019, masyarakat dan wisatawan dihimbau BMKG untuk menjauhi pantai-pantai di kawasan Selat Sunda. Pasalnya, gelombang tsunami berpotensi terjadi di kawasan ini, menyusul aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi. (Laporan wartawan MITRA NEWS : ADE AKEW di lokasi kejadian)

Erupsi anak gunung Krakatau

Bekasi, MITRA NEWS – Gelombang air pasang yang menerjang kawasan wisata Pantai hingga Carita Pandeglang, Sabtu (22/12/2018) sekitar pukul 22.00 WIB, membuat panik warga dan wisatawan. Warga menduga air laut pasang merupakan tsunami.

Pantauan MITRA NEWS, luapan air laut menyapu hingga 100 meter ke daratan membuat warga sekitar ketakutan. Warga dan wisatawan yang tengah berlibur berhamburan menyelamatkan diri ke area yang lebih tinggi. Di beberapa lokasi, aliran listrik terpaksa dipadamkan karena menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Hotel Salsa Beach di kawasan Pantai Karang bolong porak poranda. Atap hotel roboh, kaca pecah dan jendela-jendela berjatuhan. Air laut masuk ke dalam hotel. Jarak antara permukaan tanah di hotel dengan air laut sekitar 2 meter.

Gerakan air yang naik ke permukaan tanah dengan kecepatan tinggi membuat mobil-mobil pengunjung yang terparkir terombang-ambing dan terseret air laut. Mobil-mobil pun rusak karena terbawa air dan menabrak tembok dan pohon.

Kendaraan berguling and terseret gelombang pasang dan tsunami di pesisir pantai Banten dan Lampung

Tak hanya itu, Menurut saksi mata, sempat terjadi angin yang sangat kencang. Namun, apakah ada gempa atau tidak, belum diketahui. Hanya saja, suara dentuman dari Gunung Anak Krakatau memang sudah terdengar kencang sejak pagi. Tapi apakah tsunami ini karena Anak Krakatau yang sedang batuk, belum diketahui.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa gelombang tinggi yang terjadi di wilayah Banten dan Lampung adalah tsunami.

Tsunami tersebut diduga dipicu adanya longsoran tebing akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada pukul 21.03, Sabtu (22/12/2018).

“Kami curigai longsor, karena pola grafik tsunaminya ini periodenya pendek-pendek seperti yang terjadi di Palu,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam jumpa persnya di Jakarta, Minggu (23/12/2018) dini hari.

Dia mengatakan, tsunami yang terdeteksi cukup jauh sampai ke Bandar lampung, Cilegon. “Ini berarti energinya cukup tinggi,” katanya.

Dia mengingatkan kepada masyarakat dan wisatawan untuk menjauhi pantai-pantai di kawasan Selat Sunda. Pasalnya, gelombang tsunami masih berpotensi terjadi di kawasan ini, menyusul aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi.

“Kami mengimbau masyarakat, jangan mendekati kawasan pantai walaupun tsunami sudah surut karena gelombang tsunami masih berpotensi terjadi. Dengan ketidakpastian ini kita harus save. Mohon dengan sangat jangan kembali dulu ke lokasi pantai, namun tetap tenang. Kami akan terus memantau,” kata Dwikorita. 

Korban berjatuhan

Gelombang tsunami yang menerjang perairan Selat Sunda termasuk di Provinsi Lampung bagian selatan mengakibatkan sejumlah korban jiwa dan luka-luka. Data terakhir hingga Minggu (23/12/2018), pukul 06:15 WIB, jumlah korban tewas sudah lebih 28 orang dan ratusan korban luka berat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, Ketut Sukerta mengatakan, para korban yang meninggal dunia dan luka-luka sudah dievakuasi ke rumah sakit. Para korban umumnya dihantam gelombang tsunami dan terkena serpihan-serpihan bangunan. 

“Korban-korban ini warga setempat yang tinggal di pesisir pantai yang dihantam gelombang tinggi dan ada juga terkena serpihan, puing-puing bangunan,” kata Ketut yang dihubungi pagi tadi.

Sukabumi Terancam Tsunami

Sementara itu, isu gempa besar juga tersebar di sebagian warga Sukabumi. Belakangan beredar kabar tak jelas agar warga Sukabumi berhati-hati. Pesan itu dikaitkan bakal adanya gempa berskala 8,0 Skala Richter di Jawa Barat pada penghujung tahun 2018.

Ancaman tsunami menghantui warga pesisir pantai selat sunda

“Isunya lagi ramai di kalangan awam Sukabumi, katanya bakal ada gempa lebih dari skala 7,” kata Ani Haerani, seorang warga Sukabumi. Karena isu itu, beberapa warga terlihat sibuk mengemasi barang berharganya untuk mengungsi dan sebagian jadi susah tidur. (***)

Tinggalkan Balasan