Istri Anggota Polri yang Meninggal Tolak Diotopsi: Ini Sudah Takdir, Keluarga Mengikhlaskan

Bekasi, MITRA NEWS – Permintaan Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendesak autopsi terhadap petugas penyelenggara Pemilu 2019, termasuk anggota Polri yang meninggal saat pengamanan TPS, tak sepenuhnya disambut baik oleh keluarga korban.

Seperti di Kabupaten Bekasi, istri almarhum Bripka Arif Mustaqim, anggota Batalyon D Brimob yang meninggal saat bertugas menolak untuk autopsi dan memastikan suaminya meninggal akibat kelelahan, bukan karena diracun.

“Sebagai keluarga kami memohon janganlah diotopsi. Suami saya meninggal karena sudah takdir dan keluarga mengiklaskan,” ucap Frida, istri Bripka Arif Mustaqim saat ditemui MITRA NEWS di asrama Batalyon D Brimob Cikarang, Kamis (16/05/2019) siang.

Frida mengatakan, rencana untuk dilakukan otopsi justru akan kembali membuka luka keluarga.

Istri almarhum Bripka Arif Mustaqim

Terlebih, keluarga sudah mengikhlaskan atas kepergian Bripka Arif Mustaqim untuk menjadi pahlawan demokrasi.

Frida memohon agar suaminya dibiarkan beristirahat dengan tenang.

“Kita menolak karena itu (otopsi) justru akan membuat tambah sedih keluarga,” ucapnya.

Bripka Arif Mustaqim meninggal pada Jumat (19/4/2019) atau dua hari setelah pencoblosan Rabu (17/4/2019).

Bripka Arif Mustaqim meninggal setelah dilarikan ke Rumah sakit. “Suami saya sebelumnya tidak pernah mengeluh sakit, saya mengetahui kondisinya di rumah sakit setelah mendengar kabar dari temannya,” ujar Frida.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Direktur Relawan Nasional Badan Pemenangan Nasional Prabowo – Sandiaga, Mustofa Nahrawardaya meminta agar seluruh kuburan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia saat bertugas pada Pemilu dan Pilpres 2019, dibongkar.

Hal ini disampaikan oleh Mustofa Nahrawardaya melalui akun Twitter miliknya @akuntofa yang mencurigai kematian ratusan petugas KPPS.

“Karena kecurigaan, saya usul agar seluruh kuburan jenazah petugas Pemilu yang meninggal ada 331 jenazah mohon dibongkar kembali untuk dilakukan autopsi,” kata Mustofa Nahrawardaya seperti dikutip MITRA NEWS dari akun twitternya.

“Tujuannya agar penyebab kematian dapat diketahui secara medis. Pembongkaran makam ini, jelas sangat penting,” ungkap Mustofa Nahrawardaya dalam status twitter @akuntofa tersebut.

(DOM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *