Kisah Gunawan Membangun Wisata Kawung Tilu Bojong Rangkas

Memutuskan untuk melepas hiruk pikuk dunia ‘kontrol sosial’ tak mudah dilakukan Gunawan. Betapa tidak, sosok satu ini dikenal publik Bekasi lantaran sikap kritisnya menanggapi persoalan korupsi, nepotisme dan kolusi. Namun dengan tekad yang bulat dan niat merubah sikap kritis menjadi watak membangun rupanya menggiring Gunawan  untuk mengembangkan potensi alam di lingkungan tempat dia tinggal hingga menjadi ladang emas menggiurkan di usaha kepariwisataan. 

Prestasi Gunawan bukan sekedar kepiawaian membangun usaha kepariwisataan yang diberinya nama Kawung Tilu, tapi memberikan lahan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya. 
Bagaimana langkah Gunawan membangun kawasan pariwisata Kawung Tilu?

Berikut petikan wawancaranya. 

Bagaimana awal menggagas wisata Kawung Tilu ?

Obyek wisata Kawung Tilu saya bentuk 6 tahun lalu sebelum adanya wisata, tepatnya pada Januari 2014 di lahan yang saat ini berdiri wisata. Saya melakukan penanaman pohon Jabon (jati kebon) di tanah milik saya sebagai penghijauan dan untuk menjaga erosi.

Kawung Tilu ide anda sendiri ?

Ya. Sekitar bulan Juni tahun 2018 munculah ide saya untuk menciptakan suatu obyek wisata dengan mengajak warga setempat dan sekitar 30 orang terbentuk kelompok masyarakat (paguyuban wisata) untuk membangun wisata. Walaupun pada waktu itu hampir sebagian besar dari warga yang tergabung dalam paguyuban tidak yakin dan percaya dengan gagasan dan rencana saya. Bahkan dari mereka ada yang mengatakan saya orang gila “Bagaimana mungkin hanya jejeran pohon jabon yang diselimuti oleh semak belukar yang letaknya pun berada ditepian sungai dan jauh dari pusat keramaian bisa menjadi sebuah tempat wisata.

Anda sempat pesimis saat itu?

Tentu tidak. Meski banyak yang sangsi, saya tidak putus harapan dan perlahan – lahan menyemangati dan memberi keyakinan kepada mereka bahwa ide saya untuk menciptakan obyek wisata akan menjadi kenyataan. Dan akhirnya mereka mulai ada ketertarikan sekalipun di tengah perjalanan tidak sedikit diantara anggota paguyuban yang mundur. 

Berapa lama anda meyakinkan masyarakat tentang ide wisata Kawung Tilu tersebut ?

Jadi begini. Hari berganti hari bulan berganti bulan dan kurang lebih 6 bulan lamanya mulai dari Juni sampai dengan Nopember 2018 saya bersama paguyuban yang tersisa bekerja keras tanpa kenal lelah tanpa dapat upah bayaran, hanya ketemu makan bersama. Itupun yang disedikan oleh istri saya setiap harinya, dan pada akhirnya terbentuklah wisata sekalipun pada waktu itu masih minim sekali fasilitasnya.

Jadi, tepatnya kapan anda mengenalkan kawasan wisata baru tersebut ke wisatawan ?

Tepatnya, 27 Nopember 2018 barulah saya memberanikan diri membuka untuk umum Wisata Adventure Kawung Tilu Bojong Rangkas yang secara bersamaan diresmikan oleh Plt. Bupati Bekasi. Dan tidak diduga dan disangka ternyata Wisata Adventure Kawung Tilu Bojong Rangkas mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat karena tidak pernah sepi dari pengunjung. Sejak itulah kepercayaan dan keyakinan paguyuban semakin kuat atas ajakan saya dalam membangun wisata, dan dari hasil pendapatan wisata terus dibangunkan untuk penataan dan peningkatan fasilitas dan pendukung wisata.

Selama perjalanan tersebut, adakah kendala tang dihadapi ?

Di tengah tumbuh keyakinan kuat di kalangan paguyuban dengan ramainya pengunjung wisata. Diluar dugaan pada awal Januari 2020 datanglah bencana banjir karena meluapnya sungai Cibe’et yang meluluh lantakan wisata beserta fasilitasnya bahkan tanah wisata terkikis longsor. Padahal wisata ketika itu kondisinya sudah tertata dan terbangun dengan baik. Sayapun bersama paguyuban akhirnya menata wisata kembali layaknya dari nol selama dua bulan, yaitu Januari sampai dengan Februari 2020, dan Alhamdulillah, akhirnya wisata bisa tertata dan terbangun lagi sekalipun belum pernah mendapat bantuan keuangan maupun infrastruktur dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi sampai tahun 2020 ini.

Bagaimana kondisi wisata kawung tilu dengan kondisi pandemi corona? 

Sama halnya dengan pengelolaan wisata di tempat lain, pada awal Maret 2020 sampai dengan Juni 2020 dengan adanya Pandemi Corona, Wisata Adventure Kawung Tilu Bojong Rangkas ditutup total dari operasional karena adanya PSBB. Dan pada awal Juli 2020 sampai dengan sekarang ini wisata dibuka kembali itupun hanya untuk hari Sabtu, Minggu dan Tanggal Merah. Cukup mengurangi pendapatan tentunya.

Berapa luas lahan wisata Kawung Tilu dan apa status kepemilikan lahannya ?

Luas lahan yang baru digunakan sekitar 4.600 M2 dari total luas 12 Ha. Sekalipun letak wisata berhimpitan dengan sungai, namun lokasi lahan yang digunakan menjadi obyek wisata adalah bukan lahan milik sungai tetapi tanah kepemilikan masyarakat adat dengan Sertifikat Hak Milik (SHM).

Apa saran anda terhadap pengelola wisata alam?

Tetap semangat dan optimis, Insya Allah kita bisa berbuat yang terbaik bagi masyarakat.  

Saya dengan istri dan masyarakat bersama-sama membangun bisnis wisata ini tanpa putus asa. Istri saya lebih banyak mengurus dalam hal marketing dan manajerial. Sementara saya tugasnya ekspansi dan paguyuban melayani wisatawan. Dengan begini kami menjadi partner bisnis yang sama-sama membangun dari nol. Kami merasakan susah dan senangnya bersama. (***)

Penulis : Kodir Hidayat

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *