18/05/2021

Terimakasih SMSI, Kami Tidak Perlu BAB Ke Sawah lagi


 
Mitra news net SERANG – “Dulu kalau mau buang air di sawah, pulang kalau mau ‘cebok’,” ujar Artanti sambil tertawa malu saat ditanyai tempatnya dan keluarga buang air besar ketika rumah mereka di Kampung Jaha, Desa Pagar Agung, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten belum memiliki MCK (mandi, cuci, kakus).
Artanti yang mengaku lahir dan dibesarkan di Kampung Jaha tersebut mengakui jika masyarakat di daerahnya memang banyak yang belum memiliki MCK, terutama kakus. Sehingga tak heran, setiap mau buang air besar mereka selalu mengungsi mencari tempat pembuangan ke sawah terdekat.
Menurut Artanti, kondisi perekonomian keluarga mereka yang saat itu belum memungkinkan MCK harus diterimanya dengan lapang dada.
Karena itu, rutinitas BAB ke sawah sudah bukan menjadi hal yang aneh. “Nggak bau kalau sudah biasa,” ujarnya tersenyum.
Menurut Artanti, saat hamil tua ia bahkan pernah BAB tengah malam ke sawah.
“Untuk penerangan, ya bawa senter lah sambil ditemani emak,” ujarnya. Agar tidak takut, Artanti mengaku selalu membawa telepon genggam setiap BAB ke sawah sebagai hiburan selama BAB.
Karena, begitu begitu begitu begitu begitu keluarganya mendapatkan informasi mendapatkan bantuan MCK, Artanti mengaku keluarganya sangat bersyukur dan gembira.
“Waktu dengar dapat bantuan Alhamdulillah, udah gak harus ke sawah lagi.”
Hal serupa juga disampaikan penerima bantuan MCK lainnya, Subika. Wanita berusia 50 tahun ini mengaku ia dan suaminya harus ke sawah setiap harus buang air besar. “Di sawah sana luas udara, jauh,” ujarnya.
Tapi, lokasi tempat pembuangan hajat yang ternyata ternyata tempat yang terbuka, tanpa ada bilik pembatas. Karena itu, Subika mengaku harus mencari pohon sebagai tempat buang hajat agar tidak terlihat orang lain yang lewat. “Di balik pohon pinggir sawah kalau beraknya,” ujarnya sambil tertawa.
Kalau hajatnya dilakukan malam hari, ia harus membangunkan suaminya untuk menemani sambil bawa senter untuk penerangan. “Kalau lagi berak malam, bawa senter biar terang.”
Menurut Subika, dia dan suaminya sebenarnya mengurus WC itu sendiri, karena tidak mempunyai rencana untuk itu harus mereka kubur di dalam. “Wong Bapa gak kerja, cuma ngangon kerbau kakaknya makanya ga ada uang buat kakus. Kalau ngangon kerbau, kalau kerbaunya beranak dua nanti yang satu buat kami, ”ujarnya.
Subika mengaku saat ini ia hanya tinggal bersama suaminya, sedangkan anak mereka memakai diri di rumah lain karena sudah menikah.
Pekerjaan sebagai suaminya pengangon kerbau yang hasilnya baru didapat jika kerbaunya melahirkan membuat dirinya harus membantu perekonomian keluarga. “Bapak ngangon kerbau, melahirkan kerbau dua, yang satu buat kami. Untuk sehari-hari, bapak bantu ‘nandur’ upahnya lima puluh ribu. Sawah juga bantu di sawah, ”ujarnya.
Karena ia mengaku sangat gembira, dibantu dibuatkan MCK. “Terimakasih sudah dibantu. Kalau dulu kan harus ke sawah, sekarang sudah bisa di rumah aja, ”ujar Subika ditemui di teras rumah, Sabtu (06/02).
Kegembiraan adanya bantuan MCK bagi warga Kampung Jaha ternyata bukan hanya dirasakan oleh penerima bantuan saja. Markani, warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan tidak mendapatkan bantuan juga mengaku ikut gembira karena sawahnya yang biasa dijadikan tempat pembuangan hajat warga sekarang jadi bersih.
Alhamdulillah sawah saya bersih jadinya, gak kotor kena ‘ini warga, ”ujarnya tertawa.
Markani mengaku prihatin terhadap kondisi para tetangganya yang tidak mempunyai MCK sehingga harus buang air besar sembarangan. “Sebenarnya kasihan melihat tetangga kalau belum punya WC, buang ‘ini’ (merah. BAB) sembarangan, jadi kelihatannya kagak enak, tapi gimana gitu,” ujarya.
Pemilik sawah, mengakuisisi setiap hari harus melapangkan setiap kali kotoran manusia di sawahnya. “Saya pernah negor karena setiap hari ngeliat ada aja. Tapi gimana ya mau ngomong gak enak. Saya pernah kaki saya kena kotoran di galangan sawah saya, ”ujarnya tertawa lepas.
Markani mengaku berusaha memaklumi kondisi tersebut. “Mau ngomong gimana, tapi gimana orang gak punya ya, kalau punya gak sampai ke sawah buang ininya,” ujar Markani sambil tertawa lagi.
Markani mengaku sangat bersyukur pada Hari Pers Nasional (HPN) 2021, SMSI membantu warga dengan program bakti sosial. Apalagi, selain MCK, ruas jalan kampung mereka juga ikut dibangun.
“Lumayan jalan jadi bagus, enggak becek, enggak licin karena sudah diaspal. Dulu jalannya keliatan kumuh, sekarang sudah bagus. Terimakasih sudah bantu jalan kami, ”ujarnya. ( Irf / ram)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *