STOP Kekerasan Jurnalis, Ayo Berdialog !

  • Bagikan

Oleh : Doni Ardon *)

Mengejutkan. Begitulah kira-kira ketika menyimak keterangan Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Sumut Ajun Komisaris Besar MP Nainggolan Utara terkait kasus penembakan yang menewaskan jurnalis media online di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara bernama Marasalem Harahap pada Sabtu dini hari, 19 Juni 2021.

Marasalem ditemukan warga sekitar 300 meter dari rumahnya di Huta VII, Pasar III Nagori Karang Anyer, Kabupaten Simalungun, sekitar 15 kilometer dari Pematang Siantar, pada pukul 01.05 WIB. Saat pertama kali ditemukan warga, kondisi Marasalem tewas dengan luka tembak di bagian paha sebelah kiri.

Juga dari keterangan abang kandung almarhum sama, yakni luka tembak di paha kiri. 

Kasus tewasnya almarhum jurnalis Marasalem dan kekerasan terhadap jurnalis bukan pertama kalinya terjadi setelah Reformasi 1998. Setidaknya, sejak 2003 hingga akhir 2017 tercatat ada 732 kasus kekerasan pada jurnalis baik itu fisik maupun nonfisik (KOMPAS/22/03/2018).

Sandiaga Uno : Wisata Kuliner Perlu Ada Cerita Kaitan Rempah-Rempah, Tradisi dan Story Telling

Kasus tersebut terus berulang sebab terkesan tidak ada tindak lanjut dari polisi dan pihak pengelola media seakan tidak mau berurusan dengan hukum.

Lalu, sepanjang 2018, tercatat 64 kasus kekerasan terjadi menimpa jurnalis. Peristiwa yang dikategorikan sebagai kekerasan itu meliputi pengusiran, kekerasan fisik, hingga pemidanaan terkait karya jurnalistik (TEMPO/31/12/2018).

Kekerasan terhadap insan pers meningkat sepanjang tahun 2019. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mencatat sebanyak 85 kasus kekerasan menimpa pekerja peliputan. Ragam demonstrasi 2019 di ibu kota menjadi peristiwa terbanyak merekam kekerasan terhadap pers (REPUBLIKA/13/02/2020).

Kasus pembunuhan wartawan Bernas, Udin, tahun 1996. Tidak terungkap.

Soal kekerasan dalam dunia pers di Indonesia, terjadu peningkatan mencapai lebih 32 persen terhadap jurnalis selama 2020. 

LBH Pers mencatat kekerasan terhadap jurnalis pada 2020 mencapai 117 kasus. Angka ini tertinggi sejak pasca reformasi (MERDEKA/12/01/2021).

Bupati Bekasi Diduga Melanggar Protokol Kesehatan Covid-19

Kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi pada tahun 2019 dan 2020 sebagian besar terjadi di arena demonstrasi. Penyebab jurnalis kerap mendapatkan kekerasan saat meliput demonstrasi lantaran mereka mengabadikan tindak kekerasan yang dilakukan aparat terhadap massa aksi.

Impunitas dalam kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap jurnalis seperti sebuah norma di negara yang rentan konflik sosial dan kejahatan korupsi yang merajalela. Pembunuhan jurnalis bermotif politik merupakan kasus kematian yang terbanyak dalam setiap insiden.

Keterangan Dewan Pers terkait kasus kematian yang menimpa jurnalis Marasalem.

Mengingat lagi kasus pembunuhan yang menimpa wartawan di Indonesia, berikut sepuluh kasus kematian wartawan bermotif pembunuhan dimana pelakunya mendapat perlindungan hukum.  

1. Herliyanto

Wartawan lepas Tabloid Delta Pos Sidoarjo ditemukan tewas pada 29 April 2006 di hutan jati Desa Taroka, Probolinggo, Jawa Timur. Polisi memastikan kematiannya terkait pemberitaan kasus korupsi anggaran pembangunan oleh mantan Kepala Desa Tulupari.

Tiga orang berhasil ditangkap. Namun, Pengadilan Negeri Sidoarjo membebaskan ketiganya karena dua pelaku dianggap tak cukup bukti dan satu tersangka dianggap gila.

2. Ardiansyah Matra’is Wibisono

Jurnalis Tabloid Jubi dan Merauke TV itu ditemukan tewas pada 29 Juli 2010 di Gudang Arang, Sungai Maro, Merauke, Papua dalam kondisi penuh luka. Polres Merauke meyakini wartawan ini tewas tenggelam sehingga tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus dugaan pembunuhan ini.

Produsen Tahu Tempe Menjerit, Ini Temuan Anggota Komisi 2 DPRD Jabar, Faizal Hafan Farid

3. Naimullah

Wartawan ini ditemukan tewas dalam mobil pribadi jenis Isuzu Challenger yang terparkir di kawasan Pantai Penimbungan, Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat.
Diduga, ia dianiaya, karena bagian belakang kepala dan pelipis kanan pecah, serta kedua tangan memar.

Sebelum tewas, korban sempat memberi tahu keluarga akan bertemu dengan seseorang namun tidak menyebut keterangan lebih lanjut.

4. Alfrets Mirulewan

Pemred Tabloid Pelangi ini ditemukan tewas 18 Agustus 2010 di Pelabuhan Pulau Kisar, Maluku Tenggara Barat saat melakukan investigasi kelangkaan bahan bakar minyak di Kisar bersama Leksi Kikilay. Dikabarkan, ada dugaan keterlibatan aparat di dalamnya. Polisi menyatakan Alfrets tewas dibunuh, namun semua tersangka mencabut BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

5. Agus Mulyawan

Pembantu koresponden dan fixer di Indonesia untuk Asia Press ini meninggal karena ditembak di Pelabuhan Qom, Los Palos, Timor Timur pada 25 September 1999.

Penembakan tersebut juga menewaskan delapan orang lainnya fan belum terungkap.

6. Fuad M Syarifuddin (Udin)

Jurnalis Harian Bernas di Yogyakarta ini dibunuh pada 16 Agustus 1996.
Dikabarkan, pembunuhan ini dikarenakan pemberitaan mengenai dugaan korupsi di Bantul dan pemberitaan kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru.

Tiga hari sebelum dibunuh, Udin diserang dan dianiaya orang tidak dikenal di rumahnya, Bantul, Yogyakarta.

Kasusnya tidak terungkap.

7. Ersa Siregar

Jurnalis RCTI ini tewas ketika melakukan liputan konflik di Nanggroe Aceh Darussalam. Pada 1 Juli 2003, Ersa bersama juru kamera Ferry Santoro dilaporkan hilang di Kuala Langsa. Empat hari berselang, mobil yang digunakan keduanya ditemukan di Langsa.
Pada 29 Desember 2003, terjadi baku tembak pasukan TNI dengan Gerakan Aceh Merdeka di Kuala Maniham, Simpang Ulim. Ersa meninggal pada kejadian ini.

Kasus Ersa tidak terungkap.

SMSI Bekasi Raya Perkuat Perusahaan Media Siber Melalui Rakerda

8. Muhammad Jamaluddin

Juru kamera TVRI Aceh ini ditemukan tewas pada 17 Juni 2003. Terdapat berbagai dugaan atas kematiannya ini, baik dibunuh kelompok GAM hingga ada yang menuduh aparat TNI di Aceh menculiknya karena motif tertentu.
Karenanya kasus kematian Muhammad Jamaludin tidak terungkap.

9. AA Prabangsa

Anak Agung Narendra Prabangsa tewas pada 16 Februari 2009 di Pelabuhan Padang Bai. Ia merupakan wartawan Radar Bali. Polisi kemudian menetapkan sejumlah tersangka pembunuhan berencana ini dengan aktor intelektualis adalah Nyoman Susrama, adik Bupati Bangli Nengah Arnawa.

Kasus pembunuhan Aa Prabangsa. Aliansi Jurnalis Indonesia mengecam sikap Presiden Joko Widodo yang memberikan keringanan hukuman terhadap tersangka.

Pengadilan Negeri Denpasar  kemudian memutus Susrama dengan hukuman seumur hidup. Namun, diubah menjadi 20 tahun penjara setelah Presiden Joko Widodo menandatangani remisi perubahan masa hukuman. Kebijakan Jokowi ini kemudian menuai kecaman.

10. Ridwan Salamun

Kontributor Sun TV di Tual, Maluku Tenggara ini tewas akibat dikeroyok ketika melakukan liputan bentrokan warga kompleks Banda Eli melawan warga Dusun Mangun, Desa Fiditan, Kota Tual, Maluku Tenggara pada 21 Agustus 2010. Berdasarkan keterangan saksi mata, posisi Ridwan berada di tengah-tengah massa karena berusaha memotret secara berimbang antara kedua belah pihak.

Pengadilan Negeri Tual membebaskan tiga terdakwa pada 9 Maret 2011. Ketiganya disebut tidak terbukti menganiaya jurnalis ini hingga tewas.

MARI BERDIALOG

Kekerasan terhadap jurnalis memang sungguh memprihatinkan. Harus diakui bahwa tujuan jurnalis membuat suatu pemberitaan tentulah bertujuan mengajak masyarakat berbuat baik.

Dalam situasi inilah, selain kritis memberitakan, insan media perlu membangun dialog sebagai upaya serius agar para pihak paham akan pentingnya peran media dalam menciptakan kehidupan yang damai sejahtera.

Dalam kaitan ini, penulis teringat Dialog Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) tingkat pusat di Gedung VI, Jalan Darmawangsa Raya Kebayoran Baru, Jakarta, pada hari Rabu tanggal 19 Februari 2020 malam.

Dalam dialog pengurus SMSI tingkat pusat (Wakil Ketua Dewan Penasehat SMSI M. Hatta Rajasa dan sekretaris Abdul Azis, Ketua Umum SMSI Firdaus, bersama jajarannya) dengan Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh, membahas pemberitaan yang konstruktif dan tidak asal kritik. 

Poinnya, diperlukan sumber daya yang tepat dalam pengelolaan media dan perlunya dorongan dan perhatian secara khusus dari pemerintah agar pemberitaan jurnalis selaras dengan apa yang diharapkan bangsa.

“Pemerintah juga harus sungguh-sungguh menciptakan keselarasan ini. Harus sering-sering berdialog dengan insan pers karena keberadaannya merupakan pilar ke 4 demokrasi yang banyak memberikan andil berupampandangan pandangan dari para tokoh melalui informasi dan pemberitaan yang disampaikan”.

“Tentunya informasi yang baik adalah informasi yang bermanfaat bagi anak-anak bangsa, karenanya harus sering membangun dialog dengan media,” demikian ungkap Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh dalam Dialog SMSI tersebut.

Konsep membangun dialog untuk menciptakan perdamaian dunia, juga disarankan Alm. KH. Hasyim Muzadi. Tokoh Nahdlatul Ulama ini mengaku tidak banyak pilihan bagi rakyat Indonesia untuk menciptakan perdamaian abadi di muka bumi ini selain dengan cara membangun dialog.

Dalam pemahamannya, dialog merupakan jalan yang paling cocok dan efisien untuk menciptakan kondisi harmonis; karena para pihak bisa saling mengerti dan memahami segala perbedaan yang terjadi diantaranya.

Tentu dialog di sini tidak sama dengan debat yang asal “ceplas-ceplos”, sebagaimana realitas di media sosial.

Dialog atau komentar di laman media sosial lebih mengarah pada debat kusir, yang lebih cenderung mengedepankan ego masing-masing.

Tak ayal, dialog semacam itu justru malah memperkeruh suasana sehingga menimbulkan kata-kata kasar.

Dialog yang dimaksud yakni dengan menghadirkan “nara sumber” selaku penengah yang memiliki pemahaman mumpuni di bidangnya. 

Sehingga Dialog menghasilkan
kesepakatan yang diterima semua pihak.

*) Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bekasi Raya

Penulis: Doni ArdonEditor: Redaksi
banner 120x600
  • Bagikan